"Lebih pedulilah pada hati nuranimu daripada reputasimu, karena hati nurani menunjukkan siapa kamu sebenarnya, sedangkan reputasi adalah apa yang orang lain pikirkan tentangmu,"
Demikian ungkapan salah satu kata- kata bijak penyanyi reggae asal Jamaica Bob Marley.
Tetapi ini bukan tentang sosok Bob Marley, ini tentang pemikiran Kolonel TNI (Purn) Rolando M Nainggolan SE ME MSi seorang pensiunan TNI AD yang sekarang fokus bersama FPPI (Forum Purnawirawan Pejuang Indonesia) yang dibentuk pada tahun 2022 oleh tokoh-tokoh Militer, yang ingin tetap berperan aktif di masyarakat. Di FPPI Rolando didaulat menjadi Ketua untuk DPD Kalimantan Barat.
"Di Forum ini saya ingin berbuat untuk masyarakat, jangan sampai terintimidasi, kita tahu rakyat semakin sulit didalam kehidupannya. Dan di usia saya saat ini kalau Tuhan memberikan kesempatan saya akan berbuat terbaik dan semampunya untuk kepentingan rakyat. Untuk kemaslahatan umat," ujarnya.
Di FPPI sebagai Ketua Dewan Pengawas/Pembina dijabat oleh Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto, dan sebagai Ketua umum dijabat Kolonel TNI (Purn) Sugeng Waras. Sedangkan Kolonel TNI (Purn) Dr Rolando M Nainggolan sebagai Ketua DPD FPPI Kalimantan Barat, dengan Dewan Pembina DR Oesman Sapta Odang.
Rolando seperti dalam kata- kata bijak Bob Marley kini lebih mementingkan perjuangan membela kepentingan rakyat tertindas yang selama ini mungkin tersingkirkan akibat salah kebijakan yang dilakukan pemerintah. Rakyat yang hanya mendengar kata-kata indah dari pemimpinnya tetapi sangat berbeda dengan realita yang diterimanya.
Di FPPI aksi nyata membela rakyat akan diwujudkan. Tidak perlu muluk muluk dengan kebijakan yang bertele-tele yang ujung-ujungnya cuma menjadi ajang korupsi.
FPPI akan hadir ditengah-tengah rakyat membutuhkan, disaat negara telat atau bahkan tidak tidak hadir sama sekali. Rasa lapar mendera, sakit yang diderita, dukungan pendidikan, kesehatan, perbaikan ekonomi, hingga persoalan kesengsaraan rakyat, FPPI akan mendobrak membela kepentingan rakyat.
Konsep FPPI yang berjuang untuk kepentingan rakyat ini tentu sangat mulia, dan hal ini yang menjadi pondasi memicu semangat Rolando untuk bergerak dan mewujudkannya.
Sosok di Militer
Sebagai seorang figure yang lama berkecimpung di Militer, Rolando sangat menanamkan teguh doktrin TNI yang berasal dari rakyat, untuk rakyat dan kembali ke rakyat. Dan filosofi ini sangat mengena di FPPI.
Sebagai sosok yang lahir dan besar di Kalimantan Barat, lahir di Ngabang, Landak pada tahun 1964 dan besar di Mempawah (TK, SD, SMP) dan Pontianak (SMA) hingga lulus dari Fakultas Ekonomi Untan, Rolando tahu persis apa yang menjadi keinginan rakyat.
Seusai lulus S1 Ekonomi Untan, demi mengejar cita-cita, Dia pun mendaftarkan Sepa Wamil di Jakarta pada tahun 1990, dan diterima hingga lulus menjadi perwira muda berpangkat Letnan Satu TNI AD di Magelang. Kemudian ditempatkan di Kodam Jaya Jakarta.
"Sekali tes Sepa Wamil langsung masuk, kebetulan masing- masing dua orang yang diambil untuk jurusan ekonomi se Indonesia, ilmu ekonomi dua orang, dua orang dari manajemen, dan akutansi dua orang," jelasnya.
"Kompetisi saat itu berat juga," kata Rolando yang saat ini di percaya menjadi Ketua Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) Kalimantan Barat.
Ketika penempatan dimulai, disini muncul keanehan, Kasdam Jaya saat itu sempat mempertanyakan kecabangan yang diterima Lettu Rolando, yakni Pasukan Tempur (Infanteri). Karena seharusnya Sarjana Ekonomi ditempatkan di Kecabangan Corps Keuangan (CKU) TNI AD.
"He..perwira muda, kamu sarjana ekonomi, kamu kok bisa di infanteri ? harusnya kamu CKU, kamu mau ditempatkan dimana kalau begini, kalau begitu kamu jadi pelatih tempur saja," ujar Rolando menirukan ucapan Kasdam Jaya saat itu sembari tertawa.
"Infanteri yang saya dapatkan kemungkinan hasil psikotes yang saya dapatkan," kata Rolando kepada Suara Pemred, Rabu (3/6) di Pontianak.
Akhirnya Dia pun di sekolahkan di Pusdiklapur di Rindam Jaya Jakarta bebrapa bulan, dan kemudian menjadi pelatih tempur selama empat tahun.
Empat tahun dirinya melatih prajurit tempur, dimana sebelumnya Dia dimasukkan di sekolah PPI (Pusat Pelatihan Infanteri) Angkatan Darat.
"Cukup bangga menghasilkan prajurit-prajurit tempur, menjadi prajurit profesional dari tangan kita, dimana saat itu sedikitpun tak terbayangkan, karena saya kan awalnya dari Sarjana Ekonomi. Dan Sarjana Ekonomi berpikirnya kan ekonomi atau bisnis, kok bisa malah menjadi pelatih tempur atau menciptakan tentara tempur, nah itulah kadang hidup ini gak bisa kita tebak atau kita susun-susun, kuliah di ekonomi malah menjadi pelatih tempur," ceritanya bangga.
Selain pelatih tempur, Dia mencoba juga untuk ikut tes Intelijen, lulus juga intelijen dan masuk komonitas Intelijen di Angkatan Darat.
"Dan saya juga tamatan sekolah intelijen Cilendek Bandung, BAIS, kemudian saya terus di lingkungan Intelijen sampai saya di tempatkan di Papua, Bandung, Ambon dan Jakarta, hingga akhirnya saya
ditempatkan di Pontianak," jelasnya.
Dalam karir penugasan Militer, dan banyak berkecimpung di dunia Intelijen, sebagai orang Batak, dia belum pernah ditugaskan di Medan. “Saya belum pernah tugas di Medan, di Surabaya juga belum pernah." tutur Bapak dari enam orang anak ini, yang dua orang anaknya telah lulus menempuh pendidikan di Akpol.
Orang Batak Kelahiran dan Besar di Kalimantan Barat
Rolando M Nainggolan tidak memungkiri dirinya sebagai orang Batak. Karena melekat di dirinya marga Nainggolan. Meskipun Rolando lahir dan besar di Kalimantan Barat.
“Saya ini sebenarnya orang Melayu, karena dari kecil tinggal dan besar di lingkungan Melayu di Mempawah dan Pontianak, apalagi saya tidak bisa berbahasa Batak. Tetapi tidak dipungkiri juga, saya ini orang Batak,” ujarnya tersenyum.
Orang tua Rolando sendiri orang Batak asal Samosir yang bekerja sebagai Pegawai Negeri bertugas di Kalimantan Barat pada tahun 1950 – an, “Jaman Gubenur Oevaang Oeray," ujarnya. “Dan Bapak saya ketemu Ibu juga orang Batak boru Panggabean yang lahir di Mempawah Kalimantan Barat, Kakek saya dari Ibu dulu kerjanya juga pegawai negeri di Mempawah,” ceritanya. Bapak dan Ibu Rolando bertemu yang sama-sama pegawai pemerintah.
“Kecil dan besar di Mempawah, membaur dengan orang Melayu, kalau saya dibilang orang batak tidak bisa bahasa batak, kalau dibilang orang Melayu semuanya lah, sudah jadilah. Kalau saya ikut berpolitik kembali ke Medan tidak diakui orang Medan, tapi kalau saya di Pontianak ikut berpolitik tidak dipakai juga, dianggap saya orang batak, repotlah saya ini, jadi saya gak usah berpolitiklah, jadi saya pikir bagaimana benar-benar berbuat untuk masyarakat dan berguna untuk kemaslahatan orang banyak," jelasnya.
Kemudian sebagai orang Batak yang lahir dan besar di Kalimantan Barat, akhirnya pada tahun 2009 masih di Militer Rolando dipercaya untuk jabatan Dandim di Putusibau Kapuas Hulu, dengan pangkat Letnan Kolonel. Masih berpangkat Letkol dirinya kemudian ditugaskan di lingkungan Kodam XII/Tanjungpura untuk memegang jabatan strategis lainnya, sebagai Wakapendam, Waasinteldam, dan Kasandidam di sekitar tahun 2007 - 2014.
Kemudian setelah berpangkat Kolonel di tahun 2014 sampai 2026 hingga memasuki pensiun, Rolando sempat menjabat sebagai Asinteldam, Kabintaldam, dan Staf Ahli Pangdam XII/ Tanjugpura.
Selain mengikuti pendidikan dilingkungan Militer, pendidikan umumnya juga cukup cemerlang. Dari S1 sampai S3 dilibasnya, di Universitas Tanjungpura. Semua Dia selesaikan untuk jurusan Ekonomi. S1 jurusan ekonomi, dan S1 LAN, S2 Ilmu Ekonomi dan S3 Ilmu Ekonomi, dimana saat itu kuliah S3 masih berkolaborasi dengan Unair (Universitas Asirlangga).
“Kami generasi pertama S3 yang berkolaborasi dengan kampus lain, kalau sekarang sudah diambil alih Untan semua,” ujarnya.
Sementara di lingkungan organisasi, dirinya bergabung di Kadin sebagai Wakil Ketua dan terpilih sebagai Ketua Percasi Kalbar tahun 2026 ini secara aklamasi.
Diceritakannya, setelah Purna Tugas sebagai prajurit, dirinya ingin tetap berbakti dan berguna untuk rakyat.
"Secara alami setelah pensiun ingin tetap berbakti dan berguna, dan saya pikir anak-anak juga sudah besar, panggilan jiwa juga seperti itu, setelah saya pensiun ingin lebih bermanfaat lagi untuk masyarakat. Pengalaman dan ilmu yang saya dapat, bisa bermanfaat untuk kepentingan masarakat. Dan ini lah kesempatan yang saat ini saya jalani juga menjadi Ketua Percasi, dimana PON 2028 target meraih emas dapat terwujud," tegasnya.
Pensiun umur 58 Tahun, berikut Jabatan di Militer :
Letnan Kolonel Inf : Kodiklat TNI AD Kodam XII/Tanjungpura 2007 – 2014
- Katim Gumil Pusdikpengmilum Kodiklat TNI AD
- Dandim 1206/PSB, Kodam XII/Tanjungpura
- Wakapendam XII/Tanjungpura
- Waasinteldam XII/Tanjungpura
- Kasandidam XII/Tanjungpura
Kolonel Inf Kodam XII/Tanjungpura 2014 – 2026
Asinteldam XII/Tanjungpura
Kabintaldam XII/Tanjungpura
Staff Ahli Pangdam XII/tanjungpura
Pendidikan : SD – SMA Negeri di Mempawah dan Pontianak 1971 – 1983
S1 Ilmu Ekonomi (SE) – Universitas Tanjungpura
S2 Ilmu Ekonomi (ME) – Universitas Tanjungpura
S2 Ilmu Politik dan Adm Negara (Msi) – Universitas Tanjungpura
S3 Ilmu Ekonomi – Universitas Tanjungpura
Organisasi dan Poltik : Wakil Ketua Pemuda Pancasila 1987
- Ketua Forum Purnawirawan Pejuang Indonesia (FPPI), DPD Kalimantan Barat 2026 - 2028
- Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) DPD Kalimanrtan Barat 2026 Pengurus HKTI 2026.(odie)